TOUNA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ampana kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui kegiatan peninjauan langsung area pertanian produktif di lingkungan Lapas.
Kepala Lapas Ampana, Febriansyah, didampingi jajaran pejabat struktural, turun langsung memantau perkembangan program ketahanan pangan sebagai bentuk pengawasan sekaligus dukungan terhadap pembinaan kemandirian warga binaan.
Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata keseriusan jajaran Lapas Ampana dalam menghadirkan program pembinaan yang tidak hanya bersifat administratif, namun juga produktif, edukatif, dan berdampak positif bagi warga binaan maupun lingkungan sekitar.
Peninjauan dilakukan di area lahan pertanian yang berada di belakang rumah dinas Kalapas serta lahan pinjam pakai di belakang area Lapas Ampana. Di atas lahan tersebut tumbuh berbagai tanaman sayuran seperti kangkung, sawi, dan kacang panjang yang dikelola secara berkelanjutan.
Hamparan tanaman hijau yang tumbuh subur menjadi gambaran keberhasilan pemanfaatan lahan tidur menjadi lahan produktif yang bernilai manfaat. Program ini tidak hanya memperindah lingkungan lapas, tetapi juga menjadi simbol semangat pembinaan dan pemberdayaan yang terus dikembangkan oleh Lapas Ampana secara konsisten.
Dalam kegiatan tersebut, Kalapas bersama jajaran meninjau secara langsung kondisi tanaman, proses pengolahan lahan, perawatan tanaman, hingga perkembangan hasil pertanian yang dijalankan bersama warga binaan.
Peninjauan ini sekaligus menjadi sarana monitoring dan evaluasi guna memastikan seluruh program berjalan optimal, tepat sasaran, dan memberikan hasil nyata.
Selain sebagai bentuk pengawasan, kegiatan ini juga memperlihatkan keterlibatan aktif pimpinan dalam mendukung program pembinaan yang berorientasi pada peningkatan keterampilan, produktivitas, dan pembentukan karakter warga binaan agar lebih siap kembali ke tengah masyarakat.
Program ketahanan pangan yang dilaksanakan Lapas Ampana merupakan implementasi nyata dari 15 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada poin ke-8 tentang “Kemandirian pangan melalui program pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur (idle)”.
Melalui pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum produktif, Lapas Ampana berhasil menghadirkan kegiatan pembinaan yang bernilai strategis, tidak hanya untuk mendukung ketahanan pangan nasional tetapi juga untuk menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa lapas mampu bertransformasi menjadi tempat pembinaan yang memberikan manfaat serta peluang perubahan bagi warga binaan.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Lapas Ampana, Febriansyah, menyampaikan bahwa program ketahanan pangan bukan hanya sekadar mendukung program pemerintah, namun juga menjadi sarana pembinaan keterampilan dan pembentukan mental kerja bagi warga binaan.
“Keterlibatan warga binaan dalam kegiatan pertanian merupakan bagian penting dalam proses pembinaan agar mereka memiliki kemampuan dan pengalaman kerja yang dapat dimanfaatkan setelah selesai menjalani masa pidana,” ujar Febriansyah.
“Melalui kegiatan ini, warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar dan terlibat langsung dalam kegiatan pertanian dengan harapan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat nantinya, mereka telah memiliki bekal keterampilan dan kemampuan untuk memulai kehidupan yang lebih baik, mandiri, serta mampu diterima kembali oleh lingkungan sosialnya,” sambungnya.
Kalapas menegaskan bahwa program ketahanan pangan tidak hanya berorientasi pada hasil produksi semata, melainkan juga menjadi media pembinaan yang humanis dan berkelanjutan dalam menciptakan warga binaan yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah bebas.
“Hasil dari program ketahanan pangan tersebut turut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan dapur Lapas Ampana melalui kerja sama dengan pihak penyedia jasa pengadaan bahan makanan,” ungkapnya.
“Pemanfaatan hasil pertanian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan di lingkungan lapas secara berkesinambungan,” tambahnya.
Selain itu, kata Kalapas, program ini juga memiliki nilai ekonomis yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan pegawai serta mendukung pemenuhan kewajiban Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Dengan demikian, program ketahanan pangan tidak hanya berdampak pada aspek pembinaan, namun juga memberikan manfaat nyata dari sisi efisiensi dan pemberdayaan ekonomi,” pungkasnya.
Seluruh rangkaian kegiatan peninjauan lahan dan monitoring program ketahanan pangan berjalan dengan baik, aman, tertib, dan lancar. Kegiatan ini menunjukkan adanya sinergi dan semangat kebersamaan yang kuat antar pegawai dalam mendukung keberhasilan program pembinaan berbasis produktivitas di lingkungan Lapas Ampana.
Melalui komitmen bersama, program ketahanan pangan diharapkan dapat terus berkembang menjadi salah satu program unggulan yang mampu menciptakan warga binaan yang mandiri, terampil, dan produktif serta mendukung terciptanya pemasyarakatan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan, turut menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap langkah positif yang dilakukan Lapas Ampana dalam mengembangkan program ketahanan pangan.
“Kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata inovasi dan komitmen jajaran pemasyarakatan dalam mendukung program pemerintah sekaligus menciptakan pembinaan yang produktif dan berdampak langsung bagi warga binaan maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.
“Program seperti ini harus terus dikembangkan karena memberikan manfaat besar, baik dalam mendukung ketahanan pangan maupun membentuk warga binaan yang lebih mandiri dan produktif,” tutupnya.
Dengan adanya program ini, Lapas Ampana berharap dapat terus menghadirkan pembinaan yang humanis, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi bukti bahwa pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan keamanan, tetapi juga pada pemberdayaan dan pengembangan keterampilan warga binaan. (*)

