TOUNA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ampana kembali menyelenggarakan Ibadah Minggu bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Kristen, Minggu (21/9/2025).
Kegiatan rohani ini berlangsung di Gereja Uekemene Lapas Ampana mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai, dengan diikuti oleh seluruh WBP Kristen dan Kepala Lapas Ampana, Luther Toding Patandung.
Ibadah Minggu dipimpin oleh Pendeta Lanto Bujalemba, S.Th., M.Th dari Gereja Calvary Ampana. Dalam pelayanannya, beliau mengusung tema”Janji di Balik Jeruji” dengan bacaan firman dari Yesaya 1:18, yang berisi ajakan kepada umat untuk kembali kepada Tuhan, memohon pengampunan, dan menjalani hidup dengan pertobatan.
Pendeta Lanto menekankan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan kedua dari Tuhan. Meski berada di balik jeruji besi, kasih Tuhan tidak pernah terhalang. Ia mengajak para WBP untuk melihat masa hukuman sebagai waktu perenungan, pemurnian diri, serta kesempatan memperbaiki hidup.
Menurutnya, janji Tuhan adalah kepastian bahwa dosa yang merah seperti kirmizi sekalipun dapat diputihkan seperti salju, asalkan manusia mau bertobat dengan sungguh-sungguh.
“Di balik jeruji ada janji. Tuhan menjanjikan pengampunan dan pemulihan bagi siapa pun yang mau datang kepada-Nya dengan hati yang tulus,” pesan Pendeta Lanto dalam renungannya.
Pada kesempatan tersebut, Kalapas Ampana, Luther Toding Patandung, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pendeta Lanto Bujalemba serta Kementerian Agama Kabupaten Tojo Una-Una atas dukungan dan keikutsertaan dalam memberikan pelayanan rohani bagi warga binaan.
“kegiatan ibadah ini merupakan bagian dari program pembinaan spiritual yang menjadi hak setiap WBP sesuai dengan kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan,” ujarnya.
“Pembinaan spiritual menjadi salah satu pilar penting dalam proses pembinaan di Lapas. Melalui ibadah ini, kami berharap warga binaan semakin sadar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, memperbaiki sikap hidup, dan siap kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik,” tambah Kalapas.
Kegiatan berjalan dengan tertib, aman, dan lancar, di bawah pengawasan petugas dan dengan partisipasi aktif dari para WBP yang mengikuti ibadah dengan penuh hikmat.
Melalui ibadah rutin seperti ini, diharapkan WBP tidak hanya dibekali keterampilan kerja dan pembinaan fisik, tetapi juga mendapat penguatan mental dan spiritual sebagai bekal menjalani kehidupan baru yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat. ***

