TOUNA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ampana mengikuti pengarahan dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, Bagus Kurniawan, terkait Pembinaan Kemandirian melalui Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif.
Kegiatan yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Sulawesi Tengah, Selasa (4/11/2025).
Dalam arahannya, Kakanwil Bagus Kurniawan menekankan pentingnya pembinaan kemandirian warga binaan sebagai wujud nyata pelaksanaan fungsi pemasyarakatan yang produktif dan berkelanjutan.
Kakanwil Bagus Kurniawan mendorong setiap satuan kerja untuk memiliki produk unggulan yang menjadi identitas khas pembinaan di masing-masing Lapas atau Rutan.
“Setiap UPT diharapkan memiliki maksimal dua produk unggulan sebagai ciri khas pembinaan kemandirian. Jumlah WBP yang terlibat dalam kegiatan UMKM atau pertukangan minimal sebanyak 10 orang,” ujarnya.
Lanjut kata Kakanwil Bagus Kurniawan, Pelaporan keuangan dan PNBP harus disusun secara realistis dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Sementara itu, produk unggulan khusus makanan dan minuman wajib memiliki izin BPOM, sertifikasi halal, serta mencantumkan tanggal produksi dan kadaluarsa pada kemasan,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Lapas Kelas IIB Ampana, Luther Toding Patandung, menyampaikan bahwa pengarahan dari Kakanwil menjadi motivasi kuat bagi pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas dan kesinambungan program pembinaan kemandirian di Lapas Ampana.
“Melalui pengarahan dari Bapak Kakanwil, kami berkomitmen memperkuat pembinaan kemandirian dengan menghasilkan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki nilai jual dan legalitas yang diakui,” ujar Luther.
Sebagai bentuk nyata implementasi pembinaan kemandirian, Lapas Ampana saat ini memproduksi olahan Kripik Pisang dengan berbagai varian rasa di bawah merek Laspana.
Merek tersebut berfungsi sebagai identitas resmi hasil karya warga binaan sekaligus sarana promosi untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat luas. Keberadaan merek Laspana menjadi bukti bahwa hasil pembinaan di Lapas tidak hanya bernilai edukatif, tetapi juga memiliki daya saing di dunia usaha.
Lebih lanjut, Kalapas Luther menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengoptimalkan potensi warga binaan di berbagai bidang keterampilan.
“Kami akan terus mengembangkan kegiatan kerja di bidang pertukangan, kerajinan, dan UMKM. Setiap kegiatan diarahkan agar mampu menghasilkan produk unggulan yang sesuai standar dan memiliki daya saing tinggi,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Kasi Binadik/Giatja, I Wayan Sucana, menyampaikan bahwa kegiatan kerja di Lapas Ampana bukan sekadar rutinitas, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan bekal keterampilan bagi warga binaan agar mampu mandiri setelah bebas nanti.
“Kami berupaya menjadikan kegiatan kerja sebagai wadah pembentukan karakter dan keterampilan agar warga binaan siap berdaya saing dan berkontribusi positif ketika kembali ke masyarakat,” ungkap Sucana.
Kegiatan pengarahan ini sejalan dengan Sapta Arahan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, yang mendukung pelaksanaan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Bapak Agus Andrianto, dalam rangka mewujudkan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Kegiatan virtual tersebut berlangsung dengan lancar dan interaktif. Lapas Ampana menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti arahan Kakanwil dengan langkah nyata, khususnya dalam memperkuat program pembinaan kemandirian dan pengembangan potensi UMKM serta ekonomi kreatif di lingkungan pemasyarakatan.
“Kami siap bersinergi dan melaksanakan arahan pimpinan demi tercapainya Lapas yang produktif, inovatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Kalapas Luther. ***

